Sebuah Perenungan tentang Menjadi Tua

Sudah 2 malam ini saya giliran jaga Bapak yang kembali opname karena pembengkakan ginjal dan prostat. Kesempatan saya untuk duduk diam dan banyak merenung sambil terkantuk-kantuk karena tidur tak nyenyak.

Menjadi tua itu bukan pilihan, yang menjadi pilihan adalah bagaimana mempersiapkan hati untuk menghadapi hari tua. Banyak orang tua yang tentunya pengen terus hidup mandiri tanpa merepotkan anak di masa tuanya. Tapi jika kondisi itu tidak memungkinkan dan tidak ada pilihan, orang tua harus siap meninggalkan rumah yang sudah berpuluh tahun ditempati dan diusahakan dengan susah payah untuk tinggal dengan anak yang satu-satunya bisa diandalkan dan harus mau diandalkan untuk merawat mereka di masa tua.

Kadang kala banyak orang tua yang tidak siap hati menghadapi hari tuanya. Mereka berat hati meninggalkan harta bendanya untuk tinggal bersama anak. Walaupun katanya harta tidak dibawa mati.

Ini saya berbicara kondisi di negeri ini. Beda ceritanya klo kita berada di Amrik yang memiliki panti wreda (nursing home) yang setara dengan hotel bintang 5. Orang tua kita taruh disana, perawatan kesehatan rohani dan jasmani juga sangat kondusif. Ada dokter yang selalu berjaga, ada komunitas untuk berkegiatan sambil ngobrol dengan suasana taman yang asri. Antar jemput pun tersedia jika ingin bepergian. Sang anak tinggal menjenguk beberapa hari sekali. Tentunya biaya untuk hal ini tidak murah.

Sebagai anak siapkah saya merawat orang tua yang tidak mudah? Karena saya harus meluangkan waktu dan wira wiri rumah sakit disela-sela komitmen untuk memberikan banyak waktu buat anak-anak.

Sekitar 4,5 tahun yang lalu kami diberi kesempatan 2 minggu merawat Ibu mertua yang sakit kanker. Dengan uang tidak seberapa yang kami punya, kami harus pulang dari US ke Indonesia dan ditengah-tengah tugas kuliah dan mengajar. Saat ini kami diberi kesempatan merawat Bapak menghadapi bermacam-macam penyakit di hari tuanya.

Jalan Tuhan kita tidak pernah tahu. Berdoa dan berserah saja kepada-Nya. Tuhan pasti berikan sesuatu yang tidak melebihi kekuatan kita.

/Eva Yulita Nugraheni

Author: Admin Reg1

3 thoughts on “Sebuah Perenungan tentang Menjadi Tua

  1. [Aga] Merawat orang tua (orang tua kandung atau orang lain yg dituakan) itu menurutku suatu karunia. Tidak semua org bisa dan mau merawat orang tua.

  2. Bagi istri saya, merawat bapak selama 5-6 bulan di rumah GDA (blok C) adalah salah satu masa hidup yang paling melelahkan. Tapi kalau kita terawang balik, itu juga adalah salah satu masa yang paling indah/dikenang.

  3. Terima kasih. Ini kesempatan kami untuk menunjukkan kasih yg sesungguhnya dari Allah kepada orang tua kami. Terkadang kami, terutama saya, berada di titik paling lelah, terkadang semangat. Doakan selalu supaya saya sebagai anak dari orang tua yg saya rawat, juga Ibu dari 2 anak yg masih kecil, dan istri dari suami yg sibuk selalu sehat lahir dan batin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *